MoreNiche

Friday, November 24, 2006

Tentang Hubungan Orang Tua & Anak

Pertama kali menyadari betapa uniknya hubungan antara orang tua dan anak adalah ketika 4 tahun yang lalu aku berpisah dari orang tua untuk jangka waktu yang lama. Meski beberapa tahun sebelumnya aku sudah hidup berpisah dengan mereka. Tapi memang entah kenapa tahun-tahun belakangan ini aku lebih sering merenung dan mengevaluasi hubunganku dengan keluarga terutama orang tua. Sebuah evaluasi atas hubungan antar individu yang terikat oleh hubungan darah dan status orang tua - anak. Setidaknya hubungan pribadiku dengan kedua orang tuaku.

Mungkin hampir setangah dari usiaku saat ini kuhabiskan untuk merepotkan dan melukai perasaan orang tua. Semenjak masuk SMA aku sudah mulai menghadirkan prahara dalam keluarga. Pengen ketawa rasanya mengingat ketika aku berada di usia yang sedang ingin mencoba & ingin tahu segalanya nyaris setiap hari bertengkar dengan ortuku. Terutama ibu. Betapa semua yang kulakukan seolah tidak ada yang benar di mata mereka. Begitu pula sebaliknya. Dan setiap kali terjadi pertengkaran selalu saja tidak ada penyelesaian yang berarti karena aku lebih memilih pergi untuk kemudian kembali jika keadaan sudah mulai agak membaik. Tidak ada diskusi atau perdebatan untuk mencari solusi. Tidak berbicara satu sama lain selama berminggu2 bahkan berbulan2 adalah hal yang wajar saat itu.

Sesungguhnya ortuku bukanlah tipe orang tua yang otoriter. Mereka sama saja dengan tipikal orang tua lain di Indonesia. Mereka hanya ingin memastikan bahwa anaknya hidup di jalan yang benar dan akhirnya hidup bahagia. Meski 'benar' dan 'bahagia' menurut versi para ortu sering kali berseberangan dengan versi si anak. Secara tidak sadar mereka terus menerus menjejalkan doktrin dan dogma kepada si anak tanpa diikuti oleh penjelasan yang logis dan rasional. Dan seringkali hal-hal yang prinsipil seperti inilah yang menyulut prahara dalan hubungan orang tua - anak.

Dari evaluasi, dari pengalaman teman2 dan orang2 serta dari beberapa obrolan bersama teman2 kantor yang mayoritas seumuran orang tuaku; ada beberapa hal menarik terkait prahara hubungan ortu - anak.

  1. Pola asuh satu arah yang merupakan pola asuh warisan nenek moyang menurutku merupakan salah satu faktor utama. Dimana para ortu senantiasa dan terus menerus hanya selalu memberi perintah dan arahan tanpa pernah peduli apakah si anak setuju atau tidak. Apalagi sampai menanyakan keinginan/pendapat si anak akan suatu hal. Bisa dimaklumi kenapa para ortu secara tidak sadar menganut pola asuh seperti ini. Karena bisa jadi hanya inilah pola asuh yang mereka tahu, berkaca pada pengalaman orang tua dan nenek moyang mereka dalam mengasuh. Jadi mereka hanya meng-adopsi mentah2 pola asuh model ini walaupun mereka tahu bahwa pola asuh seperti ini telah mengorbankan cita-cita dan keinginan mereka dulu semasa masih berperan menjadi anak.
  2. Seringkali para ortu secara arogan merasa ber 'kuasa' penuh atas anak2nya dan menganggap anak sebagai aset/investasi dimana dikemudian hari kelak si anak diharapkan dapat memberi imbal balik baik berupa materi ataupun status social. Mereka -para orang tua- tidak sadar dan acuh bahwa kenyataannya setelah melewati usia tertentu anak akan mengalami perkembangan baik fisik, mental dan pikirannya. Perkembangan ini secara alamiah juga menjadikan anak sebagai individu bebas yang memiliki ego mandiri. Dimana ego & pola pikir anak pada beberapa tahapan usia tertentu pasti berseberangan dengan pola pikir orang tua. Meski para ortu menyadari hal ini tapi mereka tetap saja masih sibuk merancang grand design untuk para anaknya. Kebebasan yang diberikan para ortu pada anaknya paling hanya sebatas kamar pribadi yang bebas didesain dan dibentuk oleh si anak.
  3. Kenapa para orang tua bersikeras memaksakan suatu model jalan hidup kepada anaknya? Kenapa mereka ngotot memaksakan sesuatu yang seringkali bertentangan dengan keinginan si anak? Seolah-olah pola hidup yang dipaksakan para ortu adalah yang terbaik bagi anaknya. Inilah yang sering aku sebut dengan balas dendam cita-cita. Ketika cita2 dan obsesi ortu kandas karena suatu hal mereka lantas membebankan cita2 tersebut kepada si anak. Jika si anak sukses meraih apa yang dulu pernah mereka cita2kan maka seolah2 merekalah yang telah berhasil menggapai cita2 tersebut. Tidak ada masalah ketika cita2 ortu tersebut dibebankan kepada anaknya yang kebetulan juga menyukai dan menyetujuinya. Tapi akan menjadi masalah tentunya ketika cita2 yang dipaksakan tersebut sangat tidak sesuai dengan keinginan si anak. Bahkan dalam beberapa kasus pemaksaan obsesi ini sifatnya mutlak, tanpa syarat dan tanpa melihat kondisi. Bagaimana mungkin seorang anak dipaksa menjadi dokter jika setiap melihat darah saja dia berasa mo pingsan?
  4. Sudah jamak di masyarakat bahwa kebahagiaan hidup selalu diukur dari materi dan status sosial. Materi yang berlimpah berarti kesuksesan. Level status sosial yang tinggi dan terpandang juga berarti kesuksesan. Dan kesuksesan berarti kebahagiaan. Banyak para ortu meyakini hal ini. secara membabi buta dan bagaimanapin caranya mereka berusaha agar anak2nya bisa sukses seperti anggapan yang umum ada di masyarakat. Termasuk menolak jalan hidup pilihan si anak yang dianggapnya tidak sesuai dengan anggapan masyarakat akan suatu kesuksesan yang berujung pada kebahagiaan.

Dan semua hal diatas masih diperparah dengan doktrin etika budaya ketimuran serta jebakan hokum religi. "Menurut, patuh dan tunduklah pada kedua orang tuamu agar kau terhindar dari ke-murtad-an yang menjauhkanmu akan dosa hingga surga kau jelang." Begitulah dogma yang kurang lebih sering diinjeksikan ke kita. Dan oleh karenanya semakin lemahlah posisi si anak dalam hubungannya dengan orang tua karena dibatasi oleh sopan santun-kualat-murtad-dosa-neraka. Betul-betul tidak ada ruang untuk diskusi dan berdebat.

Bagiku pribadi tidak ada masalah jika kalian memilih tunduk meski harus mengorbankan mimpi & obsesi kalian. Aku menghargainya karena aku percaya bahwa hidup adalah pilihan. Tapi aku akan lebih respek jika sebelum kalian tunduk, cobalah untuk sedikit mengajak diskusi untuk mengutarakan hasrat dan mimpimu. Tak apa jika pada akhirnya hal itu berujung pada pertengkaran kalo memang harus seperti itu kenyataannya. Setidaknya kalian sudah mengungkapkan isi hati kalian.

Aku sendiri secara personal saat ini sedang menikmati kemesraan hubunganku dengan kedua orang tuaku. Setelah sekian lama akhirnya mereka mulai sedikit mengerti dan mghormati jalan hidupku. Meski kuakui sangat berat dan susah pada awalnya meng-kompromikan kenginan mereka dengan egoku. Seingatku tak pernah kami luangkan waktu untuk sekedar berdiskusi mencari tahu apa keinginan dan isi otak masing-masing. Hanya pertanyaan dan pernyataan mereka yang sering kali aku belokkan dan kondisikan menjadi sebuah diskusi dan debat yang tak jarang berakhir dengan pertengkaran. Sekarang aku hanya bisa berharap agar mereka juga segera tanggap, mengerti, memahami dan menghormati pilihan hidup yang kelak akan diambil oleh kedua adikku.
Semoga.

0 comments:

Post a Comment

Artikel Yang Berhubungan

Make money online

Tentang BrandalSurga

Blog Brandal Surga ini hanya berisi catatan pribadi dari pengalaman dan eksperimen seorang blogger 'nakal' yang saat ini tengah berada di surga dalam hal blogging dan bisnis online. Kadang terselip juga sepenggal kisah hidup dan cerita kesehariannya. Manis dan getir semuanya terkumpul disini seolah kedua hal itu gak ada bedanya. Semoga aja ini semua bermanfaat buat kalian.

Cheersss...
Tambenk aka Brandal Surga

Tentang Brandal Surga | Kontak Brandal Surga

Followers

  © Blogger template The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008 | Customize by Detaro

Back to TOP